IOT (INTERNET OF THINGS) PADA NAVIGASI DRONE QUADCOPTER DALAM OPERASI MILITER MODERN UNTUK PENGINTAIAN, PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DI DAERAH OPERASI
PENDAHULUAN
Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak adalah teknologi yang semakin berkembang dan memiliki berbagai fungsi penting dalam berbagai bidang. UAV dapat terbang tanpa adanya pilot di dalam pesawat, sehingga dapat dioperasikan dari jarak jauh maupun secara otomatis. Teknologi ini telah dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas seperti misi pengintaian, pemotretan udara, penelitian atmosfer, pengambilan foto dan video, serta operasi militer. Dalam konteks militer, UAV sering digunakan sebagai drone pengintai yang mampu mencapai daerah-daerah sulit dijangkau oleh manusia, memberikan keuntungan strategis dalam operasi tanpa mempertaruhkan keselamatan manusia.
Salah satu jenis drone yang banyak digunakan adalah quadcopter, yaitu drone dengan empat baling-baling yang memiliki kemampuan manuver yang baik dan stabil saat terbang. Quadcopter dapat beroperasi dengan dua sistem pengendalian utama, yaitu secara autonomous (otomatis) atau dengan kendali manual menggunakan radio kontrol. Dalam mode manual, pengendali dapat mengarahkan pesawat secara langsung melalui remote control, sedangkan dalam mode autonomous, pesawat dapat menjalankan misi tanpa campur tangan manusia setelah diprogram sebelumnya.
Sistem autonomous pada drone merupakan teknologi canggih yang memungkinkan pesawat menjalankan misi secara mandiri berdasarkan koordinat GPS. Sistem ini bekerja dengan mendeklarasikan titik-titik waypoint yang akan dilalui selama penerbangan, sehingga drone dapat bergerak secara otomatis mengikuti jalur yang telah ditentukan. Dengan adanya sistem navigasi ini, drone dapat melakukan pencarian objek atau pengawasan wilayah secara efisien tanpa perlu dikendalikan secara terus-menerus, menjadikannya sangat berguna dalam operasi yang membutuhkan presisi tinggi dan jangkauan luas.
2. LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi merupakan salah satu pilar utama dalam kemajuan peradaban manusia, terutama di era modern ini yang ditandai dengan transformasi digital yang masif. Seiring waktu, inovasi teknologi semakin meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang penerbangan tak berawak. Salah satu bentuk nyata dari kemajuan tersebut adalah popularitas teknologi drone di kalangan masyarakat umum. Drone kini tidak hanya digunakan untuk keperluan hiburan seperti mengambil foto dan video sinematik dari udara, tetapi juga mulai merambah ke berbagai sektor profesional, termasuk militer, pertanian, logistik, dan pemetaan.
Drone, atau dalam istilah militer dikenal dengan sebutan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), adalah pesawat tanpa awak yang dapat dikendalikan dari jarak jauh atau diprogram untuk terbang secara otonom. Inovasi ini menjadi sorotan utama di era globalisasi karena kemampuannya dalam menjalankan berbagai misi tanpa melibatkan risiko langsung terhadap manusia. Dalam konteks pertahanan, drone mampu menjangkau daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh pasukan konvensional serta melakukan pengintaian dan pengawasan terhadap target musuh secara diam-diam dan efisien. Keunggulan inilah yang menjadikan drone sebagai aset strategis dalam sistem keamanan modern.
Indonesia, sebagai negara berkembang yang terus mengadopsi kemajuan teknologi global, juga telah mulai mengintegrasikan teknologi drone dalam sektor pertahanannya. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan signifikan dalam pemanfaatan Internet of Things (IoT) untuk mendukung kebutuhan militer nasional. Hal ini penting mengingat lingkungan operasional militer sering kali menuntut kesiapan dalam menghadapi kondisi ekstrem dan risiko tinggi. Dengan dukungan sistem digital seperti drone yang terkoneksi dengan jaringan informasi real-time, efisiensi dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan misi menjadi jauh lebih optimal.
Dalam operasi militer modern, drone memegang peran yang sangat krusial. Tidak hanya digunakan untuk pengintaian dan pengawasan, drone juga dapat dilengkapi dengan persenjataan atau logistik guna menunjang berbagai jenis operasi tempur. Kecepatan dan presisi yang dimiliki oleh sistem ini memungkinkan pasukan untuk melakukan penindakan cepat terhadap ancaman, serta memberikan bantuan logistik ke lokasi yang sulit diakses tanpa menimbulkan risiko besar terhadap personel militer. Hal ini mencerminkan bagaimana teknologi tak berawak mampu meningkatkan daya tempur sekaligus efisiensi operasional di medan perang. Teknologi ini memungkinkan pengumpulan data secara cepat dan akurat, sekaligus mengurangi keterlibatan manusia dalam kondisi berbahaya. Dalam konteks pertahanan, drone menjadi solusi ideal untuk menjaga keamanan wilayah secara berkelanjutan, mengurangi risiko korban jiwa, serta menciptakan sistem pengawasan terpadu yang dapat diandalkan di berbagai medan — baik darat, laut, maupun udara.
Gambar 1 : Drone Quadcopter untuk mendukung tugas TNI AD
3. TEKNOLOGI YANG DIGUNAKAN
Dengan menggunakan sebuah software untuk image processing dan konfigurasinya dan ditambahkan pada sistem wahananya sebuah autopilot sehingga dapat terbang atau melaksanakan misi tanpa menggunakan remote control. Dalam menentukan titik-titik koordinat (waypoint) untuk tracking nya (sebuah misi yang sudah ditentukan) butuh parameter-parameter yang nantinya akan mendukung pelaksanaan misinya, seperti menggunakan GPS satelit sebagai salah satu parameter penentuan titik koordinat (waypoint), maka dari itu ditambahkan sebuah aplikasi yang mana selain bisa menentukan waypoint-nya lewat Smartphone (Android), komunikasi antar data pada drone ke aplikasinya menggunakan internet (IoT) untuk komunikasi antar datanya. Adapun juga komponen yang ditambahkan dalam aplikasi ini yaitu Node MCU dan Modem Router WiFi yang didukung oleh jaringan 4G yang nantinya aplikasi tersebut bisa terhubung dari Android (Smartphone) ke perangkat drone. Jadi, drone dapat bergerak berdasarkan waypoint (titik koordinat) yang sudah ditentukan pada Smartphone dan menganalisa hasil setiap laju terbang drone ketika berada di tiap titik koordinat dengan dibantu sebuah aplikasi Mission Planner versi Android setelah mengendalikan drone lewat GPS yang dikontrol posisinya melalui Android. Adapun perangkat-perangkat pendukungnya yaitu antara lain:
a. Flight Controller
Jenis flight controller yang digunakan dalam sistem ini adalah FC Pixhawk, sebuah perangkat kendali utama yang dikenal luas dalam dunia pengembangan drone karena kestabilan dan fleksibilitasnya. Pixhawk dilengkapi dengan berbagai sensor penting seperti akselerometer, giroskop, magnetometer, dan barometer, yang memungkinkan drone untuk mempertahankan kestabilan, navigasi, serta mengatur ketinggian secara otomatis. Selain itu, Pixhawk memiliki berbagai port antarmuka (interface) yang mendukung konektivitas dengan beragam perangkat pendukung, seperti GPS, modul telemetry, kamera, serta sistem penghindar rintangan (obstacle avoidance system). Fleksibilitas ini membuat Pixhawk sangat cocok untuk berbagai aplikasi, mulai dari penelitian, pemetaan udara (aerial mapping), hingga misi pencarian dan penyelamatan.
b. Node MCU ESP8266
Node MCU merupakan open source platform IoT, dimana di dalamnya terdapat firmware dengan modul Wi-Fi ESP 8266 dari Espressif System, dengan mikrokontroller ESP-12 dan firmware menggunakan bahasa pemrograman. Secara fungsional Node MCU maupun Arduino memang terlihat sama karena pada dasarnya merupakan mikrokontroller development board. Penggunaan Node MCU sendiri lebih powerfull jika digunakan sebagai kontrol berbasis IoT.
c. Modem Router Wi-Fi 4G
Wi-Fi merupakan singkatan dari Wireless Fidelity yang artinya sebagai jaringan nirkabel yang dapat terhubung dengan sambungan internet. Sedangkan, Modem sendiri merupakan Modulator Demodulator sebuah perangkat keras yang berfungsi untuk mengubah 2 sinyal berbeda yaitu dari sinyal digital menjadi sinyal analog. Sehingga, jika digabung keduanya memiliki pengertian yaitu sebuah perangkat keras yang terhubung dengan sambungan internet tanpa menggunakan kabel. Fiturnya yang portable membuat Modem Wi-Fi bisa dibawa kemana saja.
d. GPS
Global Positioning System (GPS) merupakan sistem navigasi berbasis satelit yang menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Setiap satelit mengirimkan sinyal dan parameter orbit dimana memungkinkan perangkat GPS untuk memecah kode dan menghitung lokasi yang tepat dari sebuah satelit. Penerima GPS menggunakan informasi dan trilaterasi (bekerja dengan jarak) untuk menghitung lokasi pasti pengguna. Pada dasarnya, penerima GPS mengukur jarak ke masing-masing satelit dengan jumlah waktu yang ditentukan untuk menerima sinyal yang dikirimkan tersebut.
e. Software Mission Planner
Mission Planner merupakan ground control station (stasiun control darat) untuk pesawat dan quadcopter. Mission Planner dirancang khusus untuk mempermudah dalam perencanaan terbang otomatis dan juga biasanya digunakan untuk pemetaan. Sehingga perhitungan manual tentang ketinggian, skala, nilai overlap, resolusi spasial, dan lainnya bisa didapatkan hasil perhitungan secara otomatis. Sebelum drone siap terbang, dilakukan pengaturan menyeluruh terhadap perangkat drone melalui Mission Planner yang berupa pengaturan PID (Proportional Integral Derivative), kalibrasi kompas, dan penyelarasan remote control dengan drone.
f. IoT (Internet of Things)
Internet of Things, atau yang biasa kita kenal dengan singkatan IoT adalah sebuah konsep yang mana bertujuan untuk memperluas manfaat konektivitas dari internet dengan tersambung secara jarak jauh dan terus-menerus. Adapun kemampuannya seperti remote control, data dan sebagainya. Adapun cara kerja dari IoT yaitu dengan memanfaatkan suatu argumentasi pemrograman. Dimana setiap perintah argumen dari pemrograman tersebut bisa menghasilkan suatu interaksi antar mesin atau alat yang telah terhubung secara otomatis dan tanpa campur tangan manusia.
Gambar 2 : Sistem IoT pada Drone
4. KEUNGGULAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI DRONE
a. Pengintaian dan Pengenalan Objek dan Analisis cepat
Dalam misi pengintaian, drone modern dilengkapi dengan kecerdasan buatan yang memungkinkan pengenalan objek secara cepat dan akurat. Teknologi ini mampu mendeteksi dan mengidentifikasi objek-objek penting seperti kendaraan, bangunan, atau peralatan militer yang sedang beroperasi. Dengan kemampuan ini, drone dapat segera melaporkan informasi tersebut kepada pusat komando untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. proses pengawasan lebih efisien, karena drone tidak hanya merekam gambar atau video, tetapi juga menafsirkan data yang relevan untuk mendukung strategi militer. Data ini memungkinkan pengawasan medan perang yang lebih baik dan strategi yang lebih efisien.
b. Keunggulan Pengawasan Real-Time di Lokasi Konflik
Pengawasan real-time menjadi salah satu keunggulan utama dari drone militer yang berperan dalam operasi pengintaian di lokasi konflik. Drone yang dilengkapi IoT mampu memantau situasi secara terus-menerus dan memberikan umpan balik langsung ke pusat kendali. Hal ini sangat penting dalam situasi dimana waktu menjadi faktor krusial, seperti dalam operasi penyergapan atau pemantauan aktivitas musuh. Data yang diterima dalam waktu nyata memungkinkan pasukan untuk merespons secara cepat, sehingga mengurangi risiko kegagalan misi dan meminimalkan bahaya bagi pasukan yang berada di lapangan.
c. Pemanfaatan Drone dalam Kondisi Medan yang Sulit
Salah satu tantangan dalam operasi militer adalah medan yang sulit diakses, seperti pegunungan, gurun, atau hutan lebat. Drone modern yang didukung IoT memiliki kemampuan untuk terbang di ketinggian rendah dan menjelajahi wilayah-wilayah terpencil dengan lebih efisien dibandingkan kendaraan darat atau pasukan yang berjalan kaki. Drone dapat mengirimkan data dan citra dari area yang tidak terjangkau dan memberikan visual yang detail tentang kondisi medan. Dengan demikian, militer dapat menyusun strategi lebih tepat dan memahami situasi lapangan dengan lebih baik, terutama dalam operasi yang melibatkan lokasi yang sulit dijangkau.
d. Misi Pengawasan tanpa Mengorbankan Keselamatan Personel
Penggunaan drone untuk pengawasan memungkinkan militer menjalankan misi tanpa mengorbankan keselamatan personel. Dalam operasi pengintaian atau pemantauan yang biasanya berisiko tinggi, drone dapat menggantikan peran tentara dan mengurangi kebutuhan personel di lapangan. Hal ini sangat bermanfaat terutama dalam kondisi di mana wilayah yang dipantau merupakan daerah yang penuh bahaya, seperti zona peperangan atau daerah rawan konflik. Dengan pengawasan yang dilakukan secara remote, personel militer tetap bisa mengawasi wilayah tersebut tanpa harus berada langsung di lokasi, sehingga keselamatan mereka tetap terjaga.
e. Efektivitas Drone dalam Operasi Militer Tanpa Suara
Salah satu keuntungan unik drone adalah kemampuannya untuk beroperasi dalam kondisi yang hampir tanpa suara. Teknologi ini memungkinkan drone untuk menjalankan misi pengintaian dan pengawasan tanpa menimbulkan kebisingan yang bisa menarik perhatian musuh. Dalam operasi militer, aspek ini sangat krusial karena setiap suara yang tidak diinginkan dapat membahayakan keselamatan operasi. Drone yang bekerja tanpa suara dapat menyusup ke area tertentu dan mendapatkan informasi tanpa terdeteksi, memberikan keuntungan taktis yang tidak dimiliki oleh alat pengintai lainnya.
Gambar 3 : Drone Quadcopter yang dilengkapi Senapan mesin
Sistem kerja drone berbasis Internet of Things (IoT) untuk misi pengintaian dan pengawasan di daerah operasi atau wilayah rawan konflik dapat diimplementasikan secara efektif dengan menggunakan flight controller Pixhawk sebagai pusat kendali utama. Pixhawk ini terintegrasi langsung dengan perangkat lunak Mission Planner, yang berfungsi sebagai antarmuka utama untuk memberikan perintah dan konfigurasi misi. Dengan dukungan teknologi ini, drone mampu menjalankan misi patroli secara otomatis berdasarkan koordinat waypoint yang telah ditentukan, namun tetap memungkinkan kendali manual jika dibutuhkan. Drone ini juga dirancang untuk mengangkat beban hingga lebih dari 10 kg, tergantung pada kekuatan baling-baling rotor dalam mengangkat beban serta stabilitas penerbangan. Selama misi berlangsung, drone dapat terbang pada ketinggian yang cukup aman agar tetap berada di luar jangkauan deteksi musuh, sambil menjaga kestabilan dan efisiensi sistem di sepanjang jalur operasi.
Selain dari kemampuannya dalam mengangkut beban dan menjalankan misi secara otomatis, drone ini juga menunjukkan performa navigasi yang sangat baik dengan tingkat akurasi tinggi. Pergerakan drone mengikuti jalur waypoint dengan ketepatan yang ditunjukkan oleh nilai error pada koordinat latitude dan longitude yang relatif rendah. Hal ini menandakan bahwa sistem navigasi yang digunakan oleh drone quadcopter tersebut memiliki kemampuan pelacakan posisi yang sangat presisi dan stabil. Keakuratan ini sangat penting untuk keberhasilan misi di lapangan, terutama dalam kondisi yang menuntut kecepatan, ketepatan posisi, serta keandalan sistem tanpa mengganggu fungsi komponen lainnya. Dengan begitu, drone ini menjadi alat yang sangat strategis untuk operasi pengawasan di wilayah yang berisiko tinggi.
6. UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kami ucapkan kepada Atasan dan rekan-rekan yang telah membantu dalam menyelesaikan artikel ini. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semua pembaca agar dapat lebih mengetahui informasi tentang perkembangan teknologi maupun yang sedang mempelajari mengenai IoT (Internet of Things) ini. Tak lupa juga disampaikan tentunya artikel kami ini masih belum sempurna, sehingga kami mengharapkan saran dan kritik untuk penyempurnaan kedepannya
Sumber:
1. Nurdiansyah Mochamad. 2011, Perancangan dan implementasi kontroler PID ntuk tracking Waypoint pada sistem navigasi UAV (Unmanned Aerial Veichel) berbasis GPS (Global positioning system). Jurusan Teknik Elektro ITS, Surabaya
2. Harista firsta ardian. 2018, Sistem navigasi Quadcopter dan pemantauan udara. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas teknologi informasi dan elektro, Universitas teknologi Yogyakarta
3. Priyanta Fachrudin Irfan. 2016, Pemetaan Distribusi Gas Polutan Menggunakan Quadcopter berbasis Autonomous Waypoint Navigation, Jurnal Teknik Elektro. Institut Teknologi sepuluh November, Surabaya.
4. Nugroho Seno. pada tahun 2016, mengadakan penelitian tentang Sistem Navigasi gerak roboboat berdasarkan GPS menggunakan metode waypoint. Prodi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom.
5. Hidayat Rahmat. 2016, Pengembangan sistem navigasi otomatis pada UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dengan GPS (Global Positioning System). Jurusan Teknik elektro Fakultas Teknologi industry, Institut Teknologi Sepuluh November.
6. Taufik S Ahmad,2016, Sistem Navigasi Waypoint pada Autonomous Mobile Robot. Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya.
Sumber artikel ini diunduh pada tanggal 28 April 2025 pada pukul 13.00 WIB